Plesir

by - April 01, 2017

Melancong Ke Hotel Yamato 

(Catatan Mahasiswi Tingkat Akhir di Sekolah Tinggi Berlabel Islam Negeri yang Sedang Mengalami Transisi)

Salah satu agenda di semester tua adalah skripsi, itu adalah pasti. Skripsi ibarat ujian akhir layaknya anak SMA. Mau lulus syaratnya melewati itu, bukan melewatkannya, layaknya kamu melewatkan aku. Sebab melewati sangat berbeda dengan melewatkannya. Kalian pasti tau beda kata itu sebab syudah ada contohnya. :( 

Ngomong-ngomong skripsi sebenarnya bikin sensi, sebab seperti yang kita tahu skripsi itu 'susah-susah gampang' atau 'gampang susah-susah', yang jelas banyak susahnya dibanding gampangnya. Tetapi tinggal bagaimana kalian menyikapi antara susah dan gampang, sebab dua hal dalam hidup yang bertolak belakang kerap kali berfungsi sebagai pelengkap. Sayangnya, kamu tidak. Seperti ada siang dan malam, pagi dan petang, hujan dan kemarau, dan antonim-antonim lainnya termasuk aku dan kamu. Bodo amat~

Waktu terus berlanjut seberapapun menyedihkan, sementara skripsi kian gencar menghadang. Ia menungguku untuk dituntaskan segera. Tetapi apa daya, jalannya berbeda. Di tengah gentingnya acara revisi pasca SEMPRO, atau orang santai menyebutkannya seminar proposal sementara yang panik suka sekali menyebutkannya ujian. Sabar, Jendral! Lain ladang, lain belalang, bahkan juga ilalang. Terlepas dari penyebutan dan acara revisi, aku justru melarikan diri. Bukan melarikan diri, melainkan menguatkan diri dari bayangmu~
Surabaya adalah tujuan pelarianku. Bukan pelarian sih, akan tetapi lebih tepatnya melancong dan lebih pasnya acara negara. Sebab pepatah bijak nan ramah lingkungan hari ini sering berujar, "piknik itu prioritas sementara workshop itu formalitas". Di tengah kecamuk revisian skripsi, yang aku yakin semua temanku sedang dilanda mumet besar-besaran, termasuk aku sendiri, aku malah sedang enjoy gila-gilaan di hotel Majapahit, Surabaya. Jika kalian browsing di internet, dengan kata kunci Hotel Majapahit Surabaya, mesin pencarian akan menunjukkan fakta-fakta lucu nan menggemaskan. Yap! Hotel Yamato, I'm in here now. Melancong ke hotel Yamato dan mabit selama 3 malam serta dapat menikmati fasilitas gratis sepuas-puasnya adalah rejeki yang rugi bila tidak diambil meski temen-temen kampus sedang mumet-mumetnya mengerjakan revisian proposal skripsi.

Hotel Majapahit hari ini yang dulunya dikenal dengan hotel Yamato merupakan saksi sejarah perjuangan bangsa ini khususnya di wilayah Surabaya. Ingatan kita akan diajak melesat di buku-buku IPS SD, yang menyatakan bahwa di hotel Yamato terjadi insiden penyobekan bendera Belanda oleh pemuda Surabaya yang entah kenapa Belanda nekat sekali mengibarkannya. Tragedi penyobekan itu terjadi di tanggal 19 September 1945, pasca negara kita baru merdeka ada saja ujiannya. Sabar~

Selain rasa bangga sebab dapat menikmati berendam dengan air hangat, mandi dengan shower bebas pilih opsi air, makan pakai pisau, sendok garpu. Serta yang tak kalah seru adalah habis makan aku tak repot nyuci piring seperti di rumah. Rasanya seperti mimpi yang bukan mimpi~ Selain itu juga yang tak kalah seru adalah setiap kali keluar kamar pas ada acara di sekitar hotel Yamato ini,sekembalinya ke kamar, kita akan dikejutkan dengan kamar yang bersih dan rapi. Tak heran jika hotel ini dianugerahi 5 bintang di temboknya. Pencapaian yang super untuk diriku sendiri sebab akhirnya aku bisa nangkring manja di salah satu kamar hotel bintang lima ini. FUFUFUFU~ 

Bintang lima merupakan simbol hotel kelas Internasional dimana yang mabit bukan kelas teri. Bule-bule sekelas pebisnis dan jenderal kelas internasional juga pejabat tinggi di negeri ini juga menginap di hotel yang kadung tersohor sebab memiliki nilai sejarah tersebut. Bukankah ini seperti rejeki yang kadang perlu disombongi tetapi berhubung orang-orang kerap iri hati makanya demi menjaga hati untuk tidak melukai aku memutuskan untuk menahan diri. 

 Ruang menginap yang representatif mulai dari kunci otomatis dengan ID Card layaknya ATM, kemudian di dalamnya terdapat tiga ruangan yakni ruang tamu yang diisi meja kursi untuk belajar dan juga sofa beserta mejanya. Tidak ketinggalan televisi, entah berapa inchi aku tak tau. Serta perlengkapan untuk bikin minum jika bergadang.

Pada ruangan selanjutnya yang disekat oleh kaca, isinya  adalah 2 tempat tidur empuk lengkap dengan selimutnya yang ciamik bersih dan tebal. Dan ada telepon di samping tempat tidur tepatnya di atas meja di sebelah lampu tidur. Tak tanggung-tanggung, lantainya diselimuti oleh karpet tebal. Untungnya aku ingat ini hotel kelas bintang lima, jadi seandainya bukan pasti aku lebih memilih meringkuk di atas karpet sebab disana juga sama hangatnya. Perabotan lainnya adalah almari yang di dalamnya ada hanger dan brangkas. Kupikir ini emang tempatnya orang kaya bukan orang sepertiku dimana biaya satu semester spp hanya tamat untuk semalaman tanpa ada makan. -_- Disamping almari ada juga kaca rias dimana kita bisa berdiri angkuh menikmati rejeki ini dengan suka cita dan bangga di hadapannya.

Sementara di ujung paling belakang isinya adalah arena menyucikan diri. Isinya berupa kamar bilas, tempat pup yang widiw modern syekali, bath-up, dan washtafel. Bahkan berlama-lama di kamar nomor tiga ini menjadi favorit sebab jika di rumah pemandangan tidak seindah ini. Kupikir emang aku sedang mengunjungi surga dunia :S Dan yang paling menjadi faktor utama bahagia adalah support WI-FI 24 jam non-stop. Lalu nikmat Tuhan yang mana lagi yang sanggup aku dustai?
Tiada~
 
  
Hotel Majapahit a,k,a Yamato
Taman Hotel Majapahit

Kasur itu :D

Lampu Ajaib :p

Sombong ringan

Bahagia super

Mantap Jiwa

You May Also Like

0 komentar