Mamak dan Belenggu Pakem

by - Januari 08, 2017

Mamak dan Belenggu Pakem

(Catatan Mahasiswi Tingkat Akhir di Sekolah Tinggi Berlabel Islam Negeri
 yang Sedang Mengalami Transisi)


            “Mak, aku mau balikin teko pinjeman dulu ke rumah mbak Fulanah. Trus mau pakek sepedah adek.”
“Kamu? Mau pakek sepedah adekmu? Kamu tau emaknya Johar? Saban hari kerjaannya melintasi kampung dengan sepedah lanang , jadi perbincangan warga kampung pada akhirnya.”, tutur mamak menggebu.
“Yaa umpaaaaan! Mamak kebanyakan pakem.” protesku sambil berlalu meninggalkan mamak yang terdengar masih memaki-maki di dapur.
Mamak adalah gambaran ibu pada umumnya ; suka khawatir, panik, dan sensitif. Di benaknya, apapun yang tidak sesuai pakem yang ada di masyarakat membuatnya menjadi khawatir, panik, dan juga sensitif. Terlebih urusan yang paling sederhana, yaitu sepedah lanang yang hendak ku pakai.
Bagi mamak, apa yang menurutnya tidak sesuai dengan pakem yang ada akan menjadikan masalah. Jadi masalah yang sederhana ataupun rumit, pada akhirnya, tetap  akan menjadi masalah yang berakhir dengan jalan kerumitan. Sebab urusan sederhana jika sudah berhadapan dengan mamak dan masalah itu jelas-jelas tak sesuai pakem akan amat sangat rumit kuadrat sekali. Itu konsekuensi jika punya mamak yang menjadi garda terdepan penganut pakem yang ada di masyarakat. Hayati lelah, bang.
Kasus sepedah lanang yang hendak kupinjam itu adalah contoh mamak penganut pakem garis beku di masyarakat. Bayangkan, aku hanya ingin pinjam sepedah untuk mengentaskan hajatku yakni mengembalikan barang pinjeman milik tetangga, tidak lebih, tetapi sudah dihadang dengan imbas jika menggunakan sepedah itu akan jadi buah bibir. Syungguh tak habis pikir Hayati, bang. Mamak begitu antusias mendukung pakem yang masih bias.
Bagi mamak, menggunakan sepedah lanang adalah contoh gambaran yang kurang pas. Menurutnya,  ini adalah hal yang bertentangan dengan pakem di masyarakat. Perempuan harus menggunakan barang-barang milik perempuan. Serta laki-laki pun sama. Jika tidak sesuai pakem, mamak akan membaca mantra sepanjang hari. Pun juga sifat, sama dengan hal itu.
Sering aku mengeluh terhadap apa yang mamak anut. Tetapi mamak adalah mamak, yang keyakinannya hanya satu, mirip Pancaasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Keesaan yang dianut terhadap pakem tak bisa diganggu gugat. Titik dan diketuk dengan palu pengadilan. Selesai. Aku kalah telak.
Padahal, jika kalian juga tahu, mamak sering mencair terhadap pakem. Bukan berarti mamak tak konsisten terhadap keesaan pakem yang dianut. Tetapi lebih pada keadaan yang seringkali menuntutnya bekerja di luar pakem. Contoh sederhananya mamak suka naik tangga buat memasang lampu. Padahal, kerjaan panjat-panjat ini jika dikategorikan masuk daftar kerjaan bangsa wortel eh maksudku bangsa laki-laki. Tetapi mamak tak pernah memprotes dirinya sendiri jika bekerja di luar pakem. Baginya itu keadaan yang harus dipaksakan karena mengandung manfaat dan darurat. Sisanya? Masuk daftar larangan.
Jika sudah berhadapan pakem dan tatanan yang ada di masyarakat, mamak kerap menjadi garang. Tetapi aku mafhum betul, apa yang dilakukan mamak adalah demi kebaikan dan bukan semata-mata untuk pencitraan. Ini tersirat pada larangan yang disampaikan ketika aku punya niatan menggunakan sepedah lanang  milik adek yang sebetulnya tidak benar-benar aku pakai sebab tak mau bersih tegang dengan mamak untuk urusan sepele. Dalam larangannya tersirat jelas bahwa ia tak mau anaknya turut menjadi buah bibir yang mampu mencemarkan nama baik anggota keluarganya. Itu menurut hemat singkat yang kupahami bahwa mamak ingin menyelamatkanku.
Berikut beberapa contoh-contoh ringan sederhana yang masuk dalam daftar pakem dan tak boleh dikerjakan apapun caranya adalah mengendarai motor lanang, mengendarai sepedah lanang, bersifat tomboy tetapi masih saja kulanggar, pulang malam yang menurutnya sampai hari ini adalah pamali dan masih juga sering kulanggar, dan masih banyak pakem yang terlampau bias untuk dijabarkan.
Menyikapi hal tersebut, kadangkala menurut adalah jalan. Bagaimanapun agar selamat dari penarikan jatah subsidi jajan dan kesenangan adalah menuruti apa katanya. Ini berbahaya jika dilanggar, bukan karena takut tetapi amat sangat menakutkan jika subsidi benar-benar dicabut. Seorang pemalas seperti aku bisa berbuat apa selain bergantung pada kebijakan mamak? Karena aku adalah masih bagian dari tanggung jawabnya.
Terkadang, membangkang juga jalan yang tepat. Asal dalih yang kukemukakan adalah sekokoh beton berlapis baja. Tak akan jadi masalah. disamping itu juga masuk akal. Sebab jika tidak masuk akal sama sepertinya berserah diri pada tiang gantungan. Di tangan mamak, tiang gantungan adalah sebuah gambaran seseorang yang siap untuk didamprat habis seharian dan tidak akan ditanya beberapa hari ke depan.
Jadi berpikir sebelum bertindak, sebelum celaka yang tiada kira~


You May Also Like

0 komentar