Mamak dan Belenggu Pakem
Mamak
dan Belenggu Pakem
(Catatan
Mahasiswi Tingkat Akhir di Sekolah Tinggi Berlabel Islam Negeri
yang Sedang
Mengalami Transisi)
“Mak, aku mau balikin teko pinjeman
dulu ke rumah mbak Fulanah. Trus mau pakek sepedah adek.”
“Kamu?
Mau pakek sepedah adekmu? Kamu tau emaknya Johar? Saban hari kerjaannya
melintasi kampung dengan sepedah lanang ,
jadi perbincangan warga kampung pada akhirnya.”, tutur mamak menggebu.
“Yaa
umpaaaaan! Mamak kebanyakan pakem.” protesku sambil berlalu meninggalkan mamak
yang terdengar masih memaki-maki di dapur.
Mamak
adalah gambaran ibu pada umumnya ; suka khawatir, panik, dan sensitif. Di
benaknya, apapun yang tidak sesuai pakem yang ada di masyarakat membuatnya
menjadi khawatir, panik, dan juga sensitif. Terlebih urusan yang paling
sederhana, yaitu sepedah lanang yang
hendak ku pakai.
Bagi
mamak, apa yang menurutnya tidak sesuai dengan pakem yang ada akan menjadikan
masalah. Jadi masalah yang sederhana ataupun rumit, pada akhirnya, tetap akan menjadi masalah yang berakhir dengan
jalan kerumitan. Sebab urusan sederhana jika sudah berhadapan dengan mamak dan
masalah itu jelas-jelas tak sesuai pakem akan amat sangat rumit kuadrat sekali.
Itu konsekuensi jika punya mamak yang menjadi garda terdepan penganut pakem
yang ada di masyarakat. Hayati lelah, bang.
Kasus
sepedah lanang yang hendak kupinjam
itu adalah contoh mamak penganut pakem garis beku di masyarakat. Bayangkan, aku
hanya ingin pinjam sepedah untuk mengentaskan hajatku yakni mengembalikan
barang pinjeman milik tetangga, tidak lebih, tetapi sudah dihadang dengan imbas
jika menggunakan sepedah itu akan jadi buah bibir. Syungguh tak habis pikir
Hayati, bang. Mamak begitu antusias mendukung pakem yang masih bias.
Bagi
mamak, menggunakan sepedah lanang
adalah contoh gambaran yang kurang pas. Menurutnya, ini adalah hal yang bertentangan dengan pakem
di masyarakat. Perempuan harus menggunakan barang-barang milik perempuan. Serta
laki-laki pun sama. Jika tidak sesuai pakem, mamak akan membaca mantra
sepanjang hari. Pun juga sifat, sama dengan hal itu.
Sering
aku mengeluh terhadap apa yang mamak anut. Tetapi mamak adalah mamak, yang
keyakinannya hanya satu, mirip Pancaasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Keesaan yang dianut terhadap pakem tak bisa diganggu gugat. Titik dan diketuk
dengan palu pengadilan. Selesai. Aku kalah telak.
Padahal,
jika kalian juga tahu, mamak sering mencair terhadap pakem. Bukan berarti mamak
tak konsisten terhadap keesaan pakem yang dianut. Tetapi lebih pada keadaan
yang seringkali menuntutnya bekerja di luar pakem. Contoh sederhananya mamak
suka naik tangga buat memasang lampu. Padahal, kerjaan panjat-panjat ini jika
dikategorikan masuk daftar kerjaan bangsa wortel eh maksudku bangsa laki-laki. Tetapi
mamak tak pernah memprotes dirinya sendiri jika bekerja di luar pakem. Baginya itu
keadaan yang harus dipaksakan karena mengandung manfaat dan darurat. Sisanya? Masuk
daftar larangan.
Jika
sudah berhadapan pakem dan tatanan yang ada di masyarakat, mamak kerap menjadi
garang. Tetapi aku mafhum betul, apa yang dilakukan mamak adalah demi kebaikan
dan bukan semata-mata untuk pencitraan. Ini tersirat pada larangan yang
disampaikan ketika aku punya niatan menggunakan sepedah lanang milik adek yang
sebetulnya tidak benar-benar aku pakai sebab tak mau bersih tegang dengan mamak
untuk urusan sepele. Dalam larangannya tersirat jelas bahwa ia tak mau anaknya
turut menjadi buah bibir yang mampu mencemarkan nama baik anggota keluarganya. Itu
menurut hemat singkat yang kupahami bahwa mamak ingin menyelamatkanku.
Berikut
beberapa contoh-contoh ringan sederhana yang masuk dalam daftar pakem dan tak
boleh dikerjakan apapun caranya adalah mengendarai motor lanang, mengendarai sepedah lanang,
bersifat tomboy tetapi masih saja kulanggar, pulang malam yang menurutnya
sampai hari ini adalah pamali dan masih juga sering kulanggar, dan masih banyak
pakem yang terlampau bias untuk dijabarkan.
Menyikapi
hal tersebut, kadangkala menurut adalah jalan. Bagaimanapun agar selamat dari
penarikan jatah subsidi jajan dan kesenangan adalah menuruti apa katanya. Ini berbahaya
jika dilanggar, bukan karena takut tetapi amat sangat menakutkan jika subsidi
benar-benar dicabut. Seorang pemalas seperti aku bisa berbuat apa selain
bergantung pada kebijakan mamak? Karena aku adalah masih bagian dari tanggung
jawabnya.
Terkadang,
membangkang juga jalan yang tepat. Asal dalih yang kukemukakan adalah sekokoh
beton berlapis baja. Tak akan jadi masalah. disamping itu juga masuk akal. Sebab
jika tidak masuk akal sama sepertinya berserah diri pada tiang gantungan. Di tangan
mamak, tiang gantungan adalah sebuah gambaran seseorang yang siap untuk
didamprat habis seharian dan tidak akan ditanya beberapa hari ke depan.
Jadi berpikir sebelum bertindak, sebelum celaka yang tiada kira~
0 komentar